Sektor pertanian memiliki potensi luar biasa untuk hijaukan ekonomi nasional, melampaui citranya sebagai penghasil pangan semata. Konsep ini merujuk pada integrasi praktik berkelanjutan, inovasi ramah lingkungan, dan penciptaan nilai tambah dari sumber daya alam, yang semuanya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dan bertanggung jawab. Menganalisis peran pertanian dalam menghijaukan ekonomi berarti melihatnya sebagai solusi untuk tantangan lingkungan dan peluang baru di pasar global.
Salah satu cara utama pertanian menghijaukan ekonomi adalah melalui praktik pertanian berkelanjutan. Ini meliputi penggunaan pupuk organik, pestisida hayati, sistem irigasi hemat air, serta pengelolaan lahan yang mencegah erosi dan menjaga kesuburan tanah. Di sebuah kelompok tani di Cianjur, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juli 2025, pukul 08.00 WIB, para petani anggota “Maju Bersama” mulai menerapkan sistem pertanian organik untuk lahan sayuran mereka. Meskipun awalnya produksi sedikit menurun, namun setelah enam bulan, tepatnya pada Januari 2026, mereka berhasil mendapatkan sertifikasi organik dan produk mereka kini dijual dengan harga premium di pasar swalayan besar di Jakarta, yang menunjukkan bahwa praktik ramah lingkungan bisa sangat menguntungkan secara ekonomi.
Selain itu, sektor pertanian juga mendorong hijaukan ekonomi melalui pengembangan bioenergi dan produk bio-based. Limbah pertanian, seperti ampas tebu, sekam padi, atau biomassa kelapa sawit, yang dulunya hanya dibuang, kini dapat diolah menjadi sumber energi alternatif atau bahan baku untuk industri ramah lingkungan. Di Sumatera Selatan, sebuah pabrik kelapa sawit pada bulan Februari 2025, mulai mengoperasikan fasilitas biogas dari limbah pabriknya, yang tidak hanya mengurangi emisi metana tetapi juga menghasilkan listrik untuk operasional pabrik dan bahkan surplus untuk dijual ke jaringan listrik lokal. Inovasi ini menciptakan aliran pendapatan baru dan mengurangi jejak karbon.
Pertanian juga berkontribusi pada menghijaukan ekonomi melalui agrowisata dan ekowisata. Lahan pertanian yang dikelola dengan baik dan lingkungan yang lestari dapat menarik wisatawan, menciptakan lapangan kerja baru di sektor pariwisata, dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Sebuah desa di Bali yang terkenal dengan sawah teraseringnya, pada tahun 2024 berhasil menarik lebih dari 100.000 wisatawan mancanegara, menghasilkan pendapatan signifikan bagi penduduk setempat melalui penjualan hasil pertanian langsung, kerajinan tangan, dan jasa pemandu wisata. Hal ini menunjukkan bagaimana pertanian dapat menjadi tulang punggung pariwisata berbasis alam yang berkelanjutan.
Dengan demikian, sektor pertanian memiliki potensi besar untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga secara aktif menghijaukan ekonomi melalui praktik berkelanjutan, inovasi produk hijau, dan pengembangan pariwisata berbasis alam. Investasi pada sektor ini adalah investasi untuk masa depan yang lebih hijau dan sejahtera.